Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

JEJAK TITIAN (chapter: 1)

Leave a comment

berjalan disela-sela reruntuhan bangunan tua bekas rumah yang ditinggalkan. mengais-ngais dengan tongkat harapan hidup sehari. berusaha mendapatkan sisa-sisa barang bekas yang bisa dijual. setengah jam berlalu hanya sebuah panci kecil yang sudah hitam dan penuh dengan tanah.

rejeki dari seorang anak pemulung barang bekas yang hidup dengan teman-temannya di kawasan kumuh daerah tempat pembuangan akhir hanya dari sisa-sisa rongsokan. Abdullah namanya dengan usia 11 tahun. berjalan melanjutkan hidup dengan semangat pantang menyerah untuk hari ini. di karung lusuh tempat barangnya saat ini sudah bertumpuk karton bekas.

hari semakin sore, entah sudah jam berapa sekarang. mataharipun tidak begitu terik. dalam perjalanan pulangnya dia tersenyum merangkai mimpi seorang bocah. berjalan sambil melangkah tanpa ragu akan kehidupan mewah diseberang kehidupannya.

abdullah hanya anak kecil yang sudah ditakdirkan menanggung hidupnya sendiri. dia tidak berharap orang lain iba dan kasihan pada dirinya karena kedua orang tuanya telah meninggal 4 tahun yang lalu. dia tidak ingin menyerah dan meratapi nestapa dirinya.

sampai didepan kopleks pembuangan akhir yang juga merupakan rumahnya dia singgah di pengumpul barang bekas. dikeluarkan semua yang ada didalam karungnya. ibu Ratna membayar semuanya dengan harga 4700 rupiah saja. sangat sedikit jumlahnya namun abdulah tetap tersenyum seraya meraih rejekinya hari ini sambil mengucapkan terimakasih dan berlalu.

Ali, lelaki berumuran 20 tahun dengan tampang sangar duduk tak jauh dari petak abdulah tinggal. sambil bermain gitar butut yang senar-senarnya sudah mati semuanya. namun dengan suara yang merdu tertutuplah irama fals dari gitarnya. abdulah menghampirinya dan menyapa: ‘assalamu alaikum bang ali.’

‘waalaikum salam jagoan kecil’ jawabnya dengan nada yang membanggakan. ‘dapat berapa hari ini?’ tanya ali melanjutkan percakapan.

‘dikit bang, paling cukup buat makan nanti malam saja,’ balas abdullah.

‘ya sudah, disyukuri rejeki dari Allah. kalo gitu kamu mandi lalu kita sholat ashar bareng. sana gih…’ seru ali menyuruh abdullah bergegas.

‘alhamdulillah…, ok bang, tunggu sebentar ya aku tidak akan lama’ abdullah mengangkat tangannya dan masuk ke petak huniannya mengambil peralatan mandi yang hanya sabun dan sikat gigi dan odol yang masih agak banyak.

abdullah berangkat ke sumur tak jauh dari tempat tinggalnya.

(chapter 1, bersambung)

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s