Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

JEJAK TITIAN (chapter: 2)

2 Comments

‘Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh… assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh…’, salam dari ali menutup rangkaian sholat ashar yang ditunaikan bersama abdullah. abdullah menyalami ali dan membenarkan duduknya. dengan seksama abdullah mendengarkan ucapan-ucapan kalimat arab yang keluar dari mulut ali. ketika ali mulai berdoa, seketika abdullah mengamininya.

selesai menunaikan ibadah sholat azhar berjamaah yang hanya berdua, kemudian keduanya keluar musholah dan duduk di teras.

sambil melihat suasana sore yang semakin jingga keduanya bercengkrama sambil bercerita. ali senang bercerita tentang kehidupan yang penuh dengan keajaiban dan mendidik walaupun dia tidak pernah menikmati kemewahan dunia.

abdullah risau dengan keadaannya lantas berkata kepada ali,’bang, kalau nanti aku dewasa akan seperti apa ya? pantaskah orang-orang seperti kita punya mimpi?’ ali terdiam coba mencari jawaban yang pas.

‘setiap orang berhak punya mimpi. tanpa mimpi kita tidak akan menjadi lebih baik’, jawab ali memecah kebisuannya. ‘memangnya apa yang kamu mimpikan?’lanjut ali bertanya.

‘aku tidak akan bermimpi menjadi pilot, tentara atau presiden bang. aku hanya ingin menjadi pengamen seperti abang’jawab abdullah sambil tertunduk. ‘menurut abang bagus tidak mimpiku?’ lanjutnya.

ali menjawab,’mimpimu aneh sekali. kenapa hanya ingin menjadi seorang pengamen? kamu bisa jadi apapun asal punya kemauan’.

‘itu mimpiku bang, aku ingin menjadi pengamen saja. yang penting dapat uang buat makan, dan orang lain bisa terhibur.’ tatap wajahnya kosong setengah tidak percaya pada apa yang diucapkan. abdullah mencoba meraih asanya. mengangkat kepalanya menatap langit.

‘jangan konyol, kita tidak tau apa yang akan terjadi besok. yang harus kita lakukan adalah menjalaninya dengan keikhlasan’, ali mencoba membuyarkan mimpi lugu seorang anak. ‘sekolah yang tekun, cari uang yang giat… pasti jika besar nanti kamu akan menjadi seorang yang hebat’.

‘amin… bang. aku jadi rindu dengan abi dan umi. semoga mereka tenang disana’, terlihat mulai berkaca-kaca mata abdullah.

sambil meletakkan tangan di bahu abdullah, ali hanya tersenyum. senyuman itu adalah semangat yang ingin selalu dibagi bersama abdullah.

percakapan ini tidak pernah berakhir. keduanya terdiam mencoba merangkai masa depan dalam angan.

(chapter 2, bersambung)

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

2 thoughts on “JEJAK TITIAN (chapter: 2)

  1. duh makin pnasaran………di tunggu bro lanjutan na……🙂

    • wah…ternyata ada yang suka juga dengan ceritaku. thanks ya bro… mudah-mudahan lanjutannya bisa tambah oke. tuh yang chapter 3 dah keluar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s