Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

Matak: Selayang Pandang Kepulauan Anambas

8 Comments

Pulau matak merupakan Salah satu pulau di Kepulauan Anambas yang terletak pada N3 18 42.2 E106 15 51.6 (koordinat tengah pulau). Kepulauan Anambas berada di tengah laut Cina Selatan. Lokasinya berada di bagian selatan dari Laut Natuna. Luas pulau ini hanya sekitar 17 X 7 km² dengan teluk besar di bagian selatan. Awalnya tidak begitu banyak informasi yang kami dapat mengenai pulau Matak maupun Kepulauan Anambas. Cari di internet hanya bisa dapat informasi mengenai kenampakan satelit dari melalui google earth. Keberadaan pulau ini benar-benar tidak kami ketahui. Akhirnya kami hanya berangkat bermodalkan peta topografi hasil digitan, serta perlengkapan standar lapangan yaitu tenda dan alat masak lengkap.

3 hari perjalanan baru sampai di tujuan karena satu dan lain hal. Route perjalanan sebelum sampai ke pulau matak yaitu: Yogyakarta – Batam – Tanjung Pinang – Matak. Ini route melalui jalur udara. Sebenarnya jalur lainnya juga bisa seperti melalui Yogyakarta – Pekanbaru – Matak, atau Jakarta – Tanjung Pinang – Matak. Bisa juga melalui jalur laut namun saya yakin semuanya pasti tidak betah dalam perjalanan menuju ke lokasi karena waktu tempuh yang sangat lama. Bisa mencapai hitungan mingguan dari Yogyakarta.

Figure 1. Tujuh Kurcaci Berpetualang

Sebelum aku bercerita lebih jauh lagi tentang Pulau Matak dan sekitarnya, alangkah lebih baik jika aku memperkenalkan terlebih dahulu rekan-rekan yang turut serta dalam perjalanan ini. Kami berjumlah tujuh orang. 6 anak buah dan seorang bapak buah. Mari kita lihat satu satu persatu dari kiri ke kanan. Jack, Zul, Jefri, Lana (penulis), Mbah Mo, Congek dan Eta. Lokasi foto di dermaga pabrik es batu daerah kaki bagian timur pulau. Nah yang namanya Mbah Mo itu lah bapak buahnya. Hehehehe…. Bukan bermaksud pornoaksi atau bugilisasi dengan menampilkan foto ini, tapi karena kami bertujuh tidak berkesempatan foto bersama kecuali pada foto ini, jadinya ada yang bertelanjang dada. Tujuan perjalanan kami ke pulau Matak untuk melihat kondisi geologi dan sebagainya yang terdapat disana. Perjalanan eksplorasi Pulau Matak berlangsung selama 2 minggu dari tanggal 19 september 2009 sampai tanggal 2 oktober 2009. Itu makanya kami tidak merayakan lebaran bersama keluarga melainkan berlebaran di kota Batam. Mari kita lanjutkan lagi ceritanya.

Jadi bingung lagi deh mau nulis apa…. Hahahahahaaaaa…. Upz… mari kita lanjutkan ketika penerbangan menuju pulau Matak menggunakan pesawat Fokker 50 yang kecil bin imut-imut. Penerbangannya cukup makan waktu juga sekitar 1 jam. Mungkin karena baling-balingnya kekecilan jadi lambat terbangnya. Coba kalau pakai pesawat jet pasti wuzzz…wuzzzz sudah sampai. Penerbangan menuju Pulau Matak hanya 3 kali seminggu yang melalui Batam atau Tanjung Pinang maupun Pekan baru. Kalau penerbangan milik Perusahaan minyak aku kurang tau jadwalnya. Mungkin tiap hari ada. Sebagai informasi saja Pulau Matak merupakan transit dan support untuk kegiatan pengeboran minyak di laut Natuna oleh perusahaan Conoco Philips. Bahkan Landasan udaranya merupakan Bandar Udara Khusus Matak milik Conoco.

                                               Figure 2. Fokker 50. Bandara Tanjung Pinang menuju Matak

                   Figure 3. Bergaya Dulu Tooooo….                              Figure 4. Pamer lokasi. Awas satpamnya galak.

Sekilas tentang keadaan masyarakat di sana kehidupannya rata-rata sebagai Nelayan. Ada juga yang berkebun maupun bekerja sebagai karyawan di Conoco Philips maupun untuk pada kontraktor Conoco. Menurut penuturan Bapak Aziz yang merupakan Penduduk asli Matak, kehidupan disana jauh dari pembangunan dan berkembang sangat lambat berbandung terbalik dengan Natuna yang lebih maju. Kenapa Natuna Lebih maju dari pada Matak? Karena orang lebih mengenal Kepulauan Natuna dari pada Kepulauan Anambas. Orang sering menyebut Natuna sebagai lokasi pemboran minyak dan gas yang besar, namun menurut bapak ini sebenarnya ada beberapa lokasi pemboran besar yang juga berlangsung di perairan anambas. Itu makanya kenapa Natuna lebih mendapat perhatian dari pemerintah. Jika kita berkata Laut Cina Selatan, orang selalu langsung berpikiran tentang Natuna.

                   Figure 5. transportasi laut (pompong)                             Figure 6. Kapal Ikan yang sedang berlabuh

Untuk urusan listrik agak sedikit mengecewakan dilihat dari wilayah ini sebagai penghasil minyak dan gas yang cukup banyak menopang bangsa Indonesia. Disini listrik tidak menyala 24 jam seperti di rumah-rumah kita. 2 : 1, 2 malam menyala dan 1 malam mati. Untuk siang tidak menyala alias listrik padam. Masyarakat sebagian menggunakan generator sendiri untuk mengantisipasi pemadaman dari pihak PLN. Kondisi listrik seperti ini bisa jadi karena pasokan milik PLN belum bisa memenuhi permintaan dari masyarakat, bisa jadi juga karena terpencilnya letak kepulauan Anambas sehingga distribusinya agak sedikit kacau. Masyarakat sepertinya sudah terbiasa dengan hidup setengah-setengah dengan listrik seadanya.

Sinyal selular? Ini dia yang sedikit bikin shock. Ada 2 profider hadir disini yaitu telkomsel dan Indosat saja. Telkomsel hanya hadir di daerah sekitar bandara samapai desa Payak Laman atau daerah utara Pulau. Untuk indosat dapat menjangkau sampai ke area selatan namun pada banyak daerah masih terjadi blank spot alias ilang sinyal. Bahkan ketika aku berada di puncak sebuah bukit dekat agak sedikit jauh dari perkampungan sempat kehilangan sinyal. Oleh karena kondisi sinyal seperti ini dan seluruh personil tidak menggunakan Indosat, maka diputuskan untuk setiap orang mendapat jatah tambahan nomor indosat agar bisa dihubungi baik dari pihak keluarga, teman, pacar maupun untuk kami bertujuh sendiri.

Kami menggunakan desa Tebang-Ladan sebagai homebase. Disana ada sebuah penginapan yang cukup lumayan untuk digunakan sebagai base. Lokasi desa ini berada di pesisir timur pulau agak bagian utara. Hal ini yang membuat kami sedikit merasa kecewa dengan peralatan tempur lapangan yang sudah kami sediakan. Tenda, alat masak dan sebagainya tidak kami gunakan karena kami tidak tinggal di dalam hutan. Awalnya kami kira pulau ini merupakan pulau kosong atau pulau yang penduduknya masih jarang, ternyata tebakan kami salah. Hamper di setiap landaian pantai ada perkampungan. Di Pulau ini hamper semua kehidupan berlangsung di pantai. Tidak ada masyarakat yang tinggal di daerah tinggian atau perbukitan. Kami makan seafood tiap hari. Mulai dari ikan, kerang, udang, cumi dan lain sebagainya. Nyam…nyam…..

                                                                  Figure 7. Masjid Kampung Tebang

                                                                  Figure 8. perumahan dilihat dari penginapan

                                               Figure 9. jalan desa (plus kembang desanya…hehehehe….)

Masyarakat disini sangat ramah dengan kedatangan orang baru. Tidak sedikitpun mereka merasa takut atau marah dengan kedatangan kami. Dari pengalaman kami berinteraksi dengan masyarakat setempat baik anak muda maupun orang tuanya semua ramah. Pernah suatu ketika setelah kami turun dari bukit yang tingginya kira-kira 400 mdpl dan air minum sudah habis, kami bertemu paman pemilik kebun. Setelah berbincang-bincang sejenak beliau menawarkan kelapa muda. Nikmat sekali rasanya panas-panas minum air kelapa muda. Bukan hanya kelapa muda yang beliau berikan tapi ada juga jeruk bali, kedondong dan juruk peras hasil kebun beliau. Tidak sedikitpun beliau meminta imbalan untuk semua itu.

                                                                      Figure 10. mampir makan kelapa muda

Aku penah berkata pada salah satu temanku bahwa inilah mungkin yang disebut Indonesia makmur. Tanahnya subur dengan limpahan hasil buminya. Namun saying masyarakatnya masih hidup sedikit dibawah garis kata sejahtera. Kondisi alam disini sangat mempesona hati dengan kondisi panas laut yang menyengat. Pohon nyiur, kebun cengkeh maupun hasil bumi lainnya. Owhhh… lupa. Disini juga terdapat ikan napoleon yang harganya bisa mencapai jutaan per ekornya. Alamak, segitu mahalnya pasti aku tidak mau memakannya. Mending aku jual jadi duit. Hahahaha…

Berikut ini beberapa foto yang mungkin bisa menggambarkan keadaan di Pulau matak.

Figure 11. landscape kebun kelapa

Figure 12. pemandangan dari tebing dekat kampung Teluk Durian

Figure 13. jackdoel makan dengan anak-anak Matak

Figure 14. senja di perairan Anambas

Sekian dulu selayang pandang tentang Matak Kepulauan Anambas. Semoga sedikit informasi ini bisa menjadikan kita lebih mengenal Indonesia. Masih banyak cerita tentang pulau ini, mudah-mudahan aku bisa melanjutkan menulisnya hingga semua yang aku lewati disana bisa ku bagikan melalui blog ini.

[tweetmeme only_single=”false”]

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

8 thoughts on “Matak: Selayang Pandang Kepulauan Anambas

  1. wuih.,.asik ya bang jd org yg bs bekerja plus jalan2.,.jd ga monoton jalanin idup.,.aq terkesaaaaaaaan bgt.,.bukan ama abng.,.😛
    Tp ama kisah perjalanan abng dlm bekerja.,.mangtapz.,.🙂

    • itu dulu len. sekarang diem di tempat. hehehe… tapi aku nggak mau berbagi keluhkesah disini. aku mau berbagi dunia. ya jadikan tempat kerjamu sebagai tempat wisata pasti lebih nikmat dalam bekerja.

  2. pake airline apa ke matax bang?

  3. Wew tempat tinggal saya ini,terimakasih kawan telah menceritakan sedikit tenteng kami…

    • terimakasih kembali. tidak akan saya lupa pengalaman 2 minggu disana. sungguh menakjubkan. mulai dari pemandangannya samapai masyarakatnya yang sangat ramah.

  4. Eh, ada mas Jeffry nongol di blog ini… Jadi ingat camp di Maluku Utara (Halmahera) hahaha

  5. Apakah payaklaman sebuah kota kecil atu desa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s