Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

Last letter for Mezzaluna

Leave a comment

Insyaallah ini kali terakhir aku menulis tentang seorang perempuan yang pernah singgah mengisi hari-hariku dengan petuah-petuah bijak dan air matanya. Aku bukan ingin menyerah dengan keteguhan hatiku yang kalah oleh waktu. Jika saja masih ada lambaian tangan di ujung sana, mungkin aku masih akan tetap berdiri. Tidak hari ini. Tidak karena engkau tidak pernah ada disana.

Ada sejuta keluh kesah dan renungan mengisi otakku ketika menyesali kata “iya” terakhir saat aku melepaskan kepergian sombongmu. Aku tidak pernah bisa menemukan selain pemikiran tentang keangkuhanmu sebagai manusia. Saat-saat mengingatmu membuatku merasa seakan ingin bertanya dan selalu bertanya kepadamu.

Jangan pernah marah jika aku mengatakanmu angkuh dan sombong. Itulah yang engkau ciptakan di alam pikirku. Bukan aku. Aku tidak pernah pergi darimu sampai detik ini. Engkau yang meninggalkan sejuta perasaan bersalah dalam diri ini. Aku tau sekarang bukan saatnya untuk menghakimimu dengan sejuta kata-kata ini, tapi biarkan kulepas semua ini bersamaan dengan akhir kata dari surat ini.

Sepanjang waktu kita, sudah begitu banyak cerita yang kita lewati. Banyak kisah, air mata, tawa dan semangat hadir disela-sela kehidupan kita. 2 tahun lebih perjalanan waktu terasa cepat berlalu ketika saat itu kita kenang. Masih ku ingat tatapan pertamamu ketika aku masuk ke ruang kuliah dengan wajah lusuh bermata merah dengan pakaian kumal selepas aku menghabiskan malam dengan berbotol alcohol bersama sahabat.

Engkau telah merubahku, merubah sebegitu banyaknya kehidupan yang pernah aku lewati. Menjadikanku orang yang bisa merasa salah atas segala hal yang salah. Engkau rendahkan aku hingga aku tak mampu untuk berdiri dan aku tak pernah marah padamu akan semua itu.

Aku takkan mengemis untukmu lagi. Memintamu untuk kembali hadir seperti waktu yang telah berlalu. Aku tau kau orang hebat yang sanggup berdiri sendiri tanpa topangan dari siapun. Aku tahu kesombongan hidup yang engkau miliki tentang pengalaman yang tidak semua orang merasakan pahitnya. Aku tau pandangan matamu yang telah melihat berbagai rupa kehidupan manusia yang berbeda dengan tingkat penilaian hati yang kadang tergoyahkan.

Terakhir engkau bilang sebelum kita benar-benar berpisah, “Abang, adek ingin beribadah. Mendekatkan diri dengan Allah”. Kata-kata ini yang membuat kata “iya” itu mengalir begitu saja karena aku sadar dengan siapa aku berhadapan. Aku tak mampu mengucapkan kata lain selain “iya”.

Hari ini kuselesaikan semua yang seharusnya sudah kuselesaikan dari dulu. Hari ini kusudahi cinta, sayang, amarah, dendam dan segala perasaan yang pernah hadir di dalam hati dan pikiranku. Jika semua jalan yang engkau tempuh adalah jalan terbaik yang kau pilih, maka berjalanlah dengan segala apa yang kau miliki. Jadilah perempuan terbaik yang memang patut aku banggakan, seperti adanya kubanggakan dirimu di depan dunia.

Selamat jalan masa lalu. Selamat jalan Adek. Selamat jalan Mezzaluna. Selamat jalan Octavianty Sari. Kututup lembaran ini sebagai akhir cerita kita.

Assalamu alaikum ya ahli syurga.

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s