Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

Rememory 20 desember 2009

Leave a comment

Kenapa harus tanggal 20 desember 2009? sudah kejauhan ya? Biarlah, hitung-hitung buat nambah cerita untuk dibagi. Sebenarnya nggak penting sih, hanya sedikit terharu dan sedikit sadis.

Betul sekali. Tanggal diatas adalah tanggal dimana umurku genap berjumlah 26 tahun. Dan kali ini sama seperti tahun 2008 kemarin, aku berulang tahun di tengah belantara hutan kalimantan. Sama tapi beda. Tahun 2008 di kawasan Simpang Empat, kalimantan selatan. Tahun 2009nya di rimbunnya hutan Bulungan, kalimantan timur.

Memang rasanya sedikit aneh ketika harus berulang tahun di tengah hutan. Kayaknya sudah mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini. Yang penting masih ada sahabat yang menemani hari istimewaku.

Mari kita cerita tragis. Pagi itu… Setelah pembagian area pemetaan oleh korlap, semua bersiap berangkat dengan katinting masing-masing. Sebelumnya sih sudah sarapan istimewa mie sama sarden. Berangkatlah masing-masing tim dengan semua helpernya. kebetulan hari pasangan konco lapisku Zulkarnain, plus helpernya 4 orang. Kami naik ke arah utara melewati sungai.

hari ini adalah hari terakhir pemetaan. tapi semangat belum kendur. Pekerjaan harus tetap selesai. Selepas dari sungai besar, kami menelusuri sungai kecil. Sembari mendata batuan yang dominan berupa lava lapuk. baru jam sepuluh kami sudah hampir setengah jalan mendekati gunung Topi. Para helper mengajak untuk makan, padahal posisi saat itu tidak ada air mengalir dan kami lupa mengisi air waktu di sungai besar. Walhasil makannya agak sedikit “keseretan” kalo kata orang jawa alias kurang air.

Setelah makan, aku targetkan jam 2 kita sudah selesai karena menghitung perjalan pulang jalan kaki menuju tempat katinting ditambatkan plus lewat sungai yang bisa memakan sampai 2 jam perjalan. Benar tepat pukul 2 suang kami sampai di kaki gunung topi, dengan hasil data lava semuanya. sampai di titik terakhir kami beristirahat sejenak menghulangkan keringat sembari minum dan mengisah satu-dua batang rokok sebelum kami beranjak pulang.

Sekitar setengah jam puas beristirahat, kamipun beranjak meninggalkan checkpoint terakhir. Rute pulang tidak sama dengan rute berangkat karena bisa sekalian melihat-lihat litologi yang ada. Sambil berjalan menuju hilir lewati sungai kecil yang airnya bening sekali. sekitar satu kilo berjalan, tiba-tiba kepalaku sakit sekali. Spontan aku berteriak. Pikiranku sudah mengarah pada hewan bernama lebah. Benar saja. 3 ekor lebah menyengatku di bagian kepala. Pak Salom yang berada di depan langsung berteriak “lari…”. Seketika itu juag aku bergegas sambil menahan sakit dan panas dari sengatan lebah-lebah itu. Teriakanku di tengah hutan waktu itu keras sekali, karena sakitnya benar-benar sakit.

Aku minta tolong pak Salom melihat kepalaku, dan belia menemukan 2 ekor lebah. Satu akor lagi berhasil aku ambil ketika aku disengat. Alangkah kagetnya ternyata lebah raja yang menyengatku. Lebag yang berukuran se-kelingking remaja. Rasanya kepalaku waktu itu seperti mau pecah. Seperti ditusuk dengan pisau yang sangat tajam. Ampun, mengerikan sekali waktu itu.

Pak Salom menyuruhku untuk minum air sungai sebanyak-banyaknya. Ternyata bilang beliau, air sungai mentah adalah penawar racun dan bisa yang ampuh. banyak sekali aku minum sampai hampir muntah. Sebenarnya menurut beliau harus sampai muntah agar racunnya ikut keluar, namun aku tidak sampai muntah.

Setelah menenangkan diri, kami perjalan lagi. Dengan kepala yang sakit aku minta lewat sungai saja biar tidak terlalu naik turun bukit. Zulkarnain aku minta tolong memegang kompas dan gps untuk memandu para helper. Namun karena helpernya susah diatur maunya jalan sendiri akhirnya kami malah semakin jauh. Akhirnya aku panggil semuanya. Agak sedikit marah dan kepala tambah sakit, aku bilang kita potong kompas. Karena aku tidak tahan lagi dengan sakit ini, ingin segera sampai di camp cari obat. Peralatan p3k yang kami bawa ke lapangan hanya untuk cidera ringan. Dengan satu tunjukan, potong kompas, apapun yang ada di depan mata, mau itu jurang atau bukit terjal aku tidak peduli. Karena sudah dongkol. Sampai di tempat kami menambatkan perahu sekitar jam setengah 5 sore.

Jam 5 sore di hutan itu sudah sore sekali. Hari sudah mulai gelap, apalagi kami harus melewati jeram yang bisa membuat katinting kami tenggelam. Perjalanan pulang kami begitu terburu-buru. Sampai pada satu jeram akibat salah kordinasi dan terlambat antisipasi, katinting kami pun tenggelam. Untung saja data dan semua peralatan elektronik aman. Baju basah semuanya. Buat kami baju basah bukan lagi masalah. terhambat perjalan pulang kami,namun tidak begitu lama karena semua bergotong royong mengeluarkan air dan mempersiapkan katinting untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya sekitar pukul 6 kami sampai. Hari sudah sangat gelap kala itu.

rekan-rekan geologist prihatin melihat keadaanku. ada yang mencarikan obat, ada yang mengambilkan minum. Pokoknya mereka begitu cekatan menanggapi lukaku. sore itu aku tidak mandi. Langsung ganti baju dan minum obat. Naik ke tempat tidur karung langsung tidur. Saat itu mataku sudah kelihatan agak bengkak. Aku lupa minum obat apa. Sepertinya parasitamol dan apalagi itu.ternyata tidak bisa tidur karena sakitnya bukan kepalang.

Hari itu hari terkahir tugas kami di lapangan. Teman-teman semuanya sudah mulai santai sambil bersenda gurau dengan yang lain. aku bilang ke mereka silahkan dilanjutkan saja, aku ditinggal sendiri tidak apa-apa. Tapi tetap saja tidak bisa tidur.

Bersambung…(maaf karakter pengetikan habis)

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s