Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

JEJAK TITIAN (chapter 5)

4 Comments

sekembalinya makan dari tempat biasa di warung mbok Sumi yang menyediakan menu lauk pauk khas warung tegal yang super murah meriah, kedua makhluk yang mencoba menapaki dunia dengan sejuta senyuman ini terlihat bercanda beriringan. jarak dari warung itu tidak jau dari petak mereka jadi hanya butuh waktu sepuluh menit saja mereka sudah kembali berada sekitar peraduan kecilnya.

“bang Ali, nanti saja belajar gripnya, jari tanganku masih terlalu perawan untuk dipatah-patahkan seperti punya abang.” bilang Abdulah sembari merebahkan tubuhnya diatas alas kardus yang mulai tidak beraturan. tangannya meraih gitar dan menyiapkan gaya dan suara demi melantunkan lagu idolanya.

Ali menyusul duduk disamping tubuh lelaki kecil itu. sejenak dia menikmati suasana menerawang langit yang cerah mengingat sepintas potongan-potongan yang menyapanya ketika mengamen di bis kota dan warung-warung makan. sekelebat diapun mencoba menghilangkan senyuman itu sambil meraih kata-kata yang baru keluar dari mulut Abdu. “apa Du? perawan…??? kamu tahu apa sih soal perawan… hahahaha…” tanyanya memecah terdengar sedikit menggoda

Abdu malah balik bingung dengan Abang nya yang satu ini. dipikirannya menjadi aneh. “Bang, apa lagi ini? orang ngomongin jari kok yang ditekankan malah kata perawannya. ayo ngaku abang lagi ngelamun jorok ya…” balas abdu menggoda Ali.

“waduh… sabar dulu Du, bukan itu intiya. hahahaha… kamu ini mau digoda malah balas menggoda”. Ali mulai merubah arah pembicaraannya karena dia tahu jika diteruskan ujung-ujungnya bisa berakibat fatal terhadap perkembangan diri bocah itu. “sudah…sudah… mainkan saja gitarnya. rekues lagunya Kuburan saja yang A minor ke D itu… ayo…” pinta Ali.

“Ok bang” sahut lelaki kecil itu sambil memainkan gitar dengan jari-jari kecilnya. “…lupa..lupa..lupa…lupaaa… aku lupa liriknya….” sambil sesekali terlihat senyum dan tawa kecil darinya dikarenankan suaranya yang aneh dan permainan gitar yang super-super berantakan. Ali pun memakluminya karena Abdu memang baru beberapa bulan belajar main gitar darinya.

kehidupan anak jalanan seperti mereka mengharuskan lika-liku yang mungkin tidak dirasakan oleh anak-anak orang kaya yang hanya menikmati hasil keringat orang tua mereka dan parahnya mereka selalu bangga dengan semua itu. tawa, tangis, diam dan berteriak bagi mereka yang tidak pernah merasakan kenikmatan hidup selalu membawa cerita bagi kehidupannya.

sejenak sebelum beranjak menutup hari di petak kecil, suara gitar itu masih mengiringi suasana malam yang hangat diantara keduanya. tidak peduli dengan hiruk-pikuk suasana kota di luar sana. bagi mereka, inilah dunia mereka.

bersambung.

Share

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

4 thoughts on “JEJAK TITIAN (chapter 5)

  1. sudah di baca boss,, ayooo bikin terus sambungannya sampe bosan aku bacanya… kalopun bingung ya dibikin muter muter aja ceritanya kayak sinetron yang nggak pernah selesai ceritanya karena muter terus hihihi…

  2. biarin aja sih yank,,, sapa tau nanti yayank bisa gantiin jadi sutradara sinetron or sutradara film yank… kan aku bangga yank😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s