Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

Para Pencari Kodok

Leave a comment

sepertinya tidak akan habis cerita yang dapat aku ambil dari kebersamaan bersama masyarakat dayak. memang hanya segelintir saja suku dayak yang baru aku kenal tapi kalau mau diambil kasaran, rata-rata keseharian suku dayak itu hampir sama. entahlah ada berapa banyak suku dayak yang ada di kalimantan.

cerita saat flaying camp di sungai keburau yang hilirnya di sungan kayan besar. sore hari setelah perjalanan memakai ketinting mudik ke hulu sungai. dikarenakan kondiis sungai yang dangkal dan banyak jeram perjalannpun tidak bisa dilanjutkan sampai ke point yang dituju. seharian lebih banyak kerjanya menarik perahu daripada menaikinya.

melihat kondisi yang tidak memungkinkan dan waktu semakin sore, akhirnya diputuskanlah mendirikan pondok untuk bermalam. lokasi pondok sedikit ke darat karena takut kondisi air sungai kecil seperti ini cepat naik dan cepat juga turunnya. daripada hanyut terbawa arus lebih baik cari aman. hampir 2 jam mendirikan pondok. tralala jadilah tempat untuk berteduh malam ini.

malam pun datang, cuaca langit terlihat cerah dengan bulan setengah purnamanya. bintang terlihat. tidak ada angin tak jua hujan. malam itu acara api unggun sambil memanaskan baju yang basah agar kering semua dan siap dipakai untuk kerja esok harinya.

seorang tenaga lokal yang kami ajak bernama dayak “Mering” mendekati perapian sambil membawa parang dan keranjang anyam rotan. rupa-rupanya dia hendak mencari kodok sebagai lauk makan. dengan senter dan semua peralatan berburu kodok lengkap dia pun menyeberang sungai menuju tebing disebelah.

rupa-rupanya sedari tadi menyenter tebing sudah ada calon korban kodok yang nangkring dengan sempurnanya. tak berapa lama langsung kena hajar oleh parang bagian sisi tumpulnya. keok lah sang kodok tepar kena sikat. hop, masuk keranjang lah si kodok korban ini. beberapa meter dari korban pertama ternyata ada lagi korban selanjutnya. kali ini tidak digetok menggunakan parang tapi ditangkap tangan saja. hop… kena tilang sudah kodok itu. masuk keranjang pula menyusul.

om david yang orang flores pun tidak mau kalah. setelah baju ditanggalkan tanpa takut masuk angin ikut pula perburuan kodok malam ini. dan kedua pencari kodok ini berjalan menyusuri sungai berteman cahaya senter 2 batrei. cukup lama juga mereka pergi, hampir satu jam. sampai hilang di tikungan sungai dan tidak terlihat dari tempat perapian.

ketika balik, ternyata banyak mereka membawa hasil. mungkin hampir 2 kg kodok yang didapat, ditambah lagi dengan beberapa ekor ikan sungai yang berukuran jempol orang dewasa. kodok yang didapat mulai dari ukuran junior sejempol kaki sampai ukuran super selebar 3 ruas jari manusia. ternyata orang di dareah sungai kayan ini gemar sekali makan kodok. katanya daging kodok itu enak, hampir mirip dengan daging ayam. isi dagingnya putih.

olahan kodok yang sering dibuat oleh orang sini itu ya di goreng atau juga di tumis. mantap betul rasanya kata mereka. karena tidak biasa makan dan itu kodok hidup di dua alam maka tidak aku makan itu. orang cina kalo dibawakn kodok ini pasti disantap habis, macam makan di warung tio ciu saja.

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s