Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

JEJAK TITIAN (chapter 6)

Leave a comment

Ramai riuh kantin bersuara canda tawa dan ejekan ringan diantara santapan khas sederhana ala kantin kampus, dalam keakraban abdullah mencoba ambil posisi. Sembari sesekali melayangkan suara lantang namun tersirat guyonan nakal sedikit mengelitik mengenang kisah ospek. Dari seberang meja tak kalah nyaringnya sahutan lelaki teraniaya ejekan itu balik membalas, dan terpecah kembali canda tawa mengakrabkan suasana.Abdullah kecil yang bersuara cepreng itu kini telah merasakan nikmat bangku perguruan tinggi. Jenjang sekolah yang mungkin dulu hanya dicita-citakannya, yang hanya sekedar mimpi buaian penghias lamunan. Berteman dengan siapa saja yang menjadi mahasiswa yang satu jurusan dengannya. Diantara teman-temannya ada yang berasal dari keluarga sederhana, ada juga yang biasa saja dan bahkan ada yang berasal dari keluarga berkemampuan lebih. Mereka semua sama berstatus mahasiswa geologi.

Dua bulan waktu yang cepat, masing-masing dari keseluruhan mahasiswa seangkatannya mungkin belum akrab. Hanya sebagian saja yang mulai berkelompok kecil-kecilan. Butuh satu moment untuk menyatukan mereka semua yang berjumlah 56 orang dalam sebuah angkatan yang utuh.

Abdu yang kini beranjak dewasa bukan terlahir sebagai anak yang pintar, namun dia adalah lelaki supel yang bergaul dengan penuh keramahan hati. Semua orang dia terima dengan baik, bahkan orang yang belum pernah mengenalnyapun akan langsung merasa nyaman setelah beberapa patah kata terucap dalam sebuah percakapan. Dari sifat inilah gampang sekali dia mendapatkan teman.

Siang itu pendaftaran untuk acara diklat sudah mulai dibuka. Memang hari itu juga dia berencana untuk mendaftarkan diri. Terlihat dari kejauhan beberapa senior angkatannya berseragam jaket kebesaran jurusan geologi sibuk menerima pendaftaran calon peserta diklat. Tas punggungnya disaut dan dipaskan dibahunya. Sambil lalu berpamitan dengan teman-temannya yang masih sibuk terlihat menikmati minuman dingin.

“sob, aku ke sana dulu”, sambil menunjuk ke arah kerumunan pendaftaran. “mau daftar langsung aja daripada nanti duitnya terpakai duluan buat yang lain” sambungnya.

terdengar suara jawaban, “duluan aja sob, tanggung habisin minum dulu. Sebentar lagi aku nyusul, aku juga mau daftaran”. Reno adalah pemilik suara yang baru saja terdengar.

Sambil berlalu meninggalkan kantin, langkah kaki abdu sedikit berlari mencoba secepatnya meninggalkan terik matahari namun tidak tergesa juga. Tak berapa lama diapun sudah sampai di hadapan meja penerimaan peserta diklat. Dihampirinya seorang perempuan yang di sela jari-jari tangan kanannya terselip sebuah bolpoin.

“kak, saya mau daftar untuk mengikuti diklat…”, tanpa basa-basi abdullah berujar.

(bersambung)

Sent from MualMaul’s Windows® phone.

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s