Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

Stratigrafi dan Sedimentasi (Krumbein & Sloss, 1963) (part 1)

Leave a comment

1.1 RUANG LINGKUP STRATIGRAFI DAN SEDIMENTASI

1.1.1 Stratigrafi

Dalam Principles of Stratigraphy, Grabau (1913) mendefinisikan stratigrafi sebagai “sisi anorganik dari geologi sejarah, atau perkembangan litosfir dari waktu ke waktu, selama umur geologi”. Definisi ini mencerminkan konsep semula dari stratigrafi, yaitu sebagai suatu cabang ilmu geologi yang memerikan, menyusun, dan menggolongkan batuan berlapis.

Penekanan yang diberikan Grabau pada proses-proses anorganik dan faktor-faktor organik dalam karya tulisnya secara tidak langsung memperluas definisi yang diberikannya serta mengindikasikan bahwa ruang lingkup stratigrafi mengalami perluasan, hingga mencakup sebagian besar materi bahasan paleontologi (dengan pengecualian untuk sistematika dan morfologi deskriptif dari fosil). Pada dekade-dekade berikutnya, hingga kini, ruang lingkup stratigrafi terus mengalami perluasan. Sekarang ini stratigrafi bisa dipandang sebagai disiplin terpadu yang mengkombinasikan berbagai data dari hampir semua cabang ilmu bumi sedemikian rupa sehingga dari hasil pengkombinasian itu dapat diperoleh gambaran mengenai sejarah bumi.

Sebelum Perang Dunia I, pekerjaan stratigrafi umumnya berupa pemerian batuan sedimen di kerak bumi. Saat itu, para ahli stratigrafi sebenarnya baru melaksanakan aspek deskriptif dari stratigrafi; mereka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk memerikan singkapan. Fasa perkembangan itu terus berlanjut hingga sekarang. Namun, semenjak empat dasawarsa lalu, aspek deskriptif stratigrafi mengalami perluasan dengan diperolehnya cara untuk memerikan batuan bawah permukaan. Hal itu terutama terjadi karena adanya perkembangan yang pesat dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas.

Para ahli stratigrafi generasi masa lalu, meskipun sebagian besar menghabiskan waktunya untuk melakukan pemerian, namun terbukti mampu mengembangkan prinsip-prinsip yang dapat dipakai untuk menafsirkan dan menganalisis data batuan sedimen. Banyak diantara prinsip-prinsip itu yang masih sahih hingga sekarang, namun ada juga yang gugur karena tidak sesuai lagi dengan data baru. Masuknya data bawah permukaan, ditambah dengan berkembangnya berbagai teknik dan alat baru untuk menganalisis material sedimen, mendorong para ahli untuk melakukan tinjauan kritis terhadap konsep-konsep yang semula dianggap sebagai konsep yang tidak lekang karena waktu (time-honored concepts). Akhir-akhir ini, para ahli stratigrafi didorong untuk menyempurnakan atau menghapus sama sekali konsep stratigrafi lama. Proses penyempurnaan itu kadang-kadang berlangsung begitu cepat.

Peninjauan ulang terhadap prinsip lama dan pengajuan prinsip baru banyak terbantu dengan diterbitkannya sintesis-sintesis stratigrafi dalam bentuk buku, misalnya seperti buku-buku yang disajikan pada bagian akhir dari bab ini. Pembaca akan melihat adanya perbedaan penting dalam penekanan dan tafsiran yang dijelaskan dalam buku ini dengan apa yang dijelaskan oleh ahli-ahli lain. Adanya perbedaan ancangan dan konsep ini mengindikasikan kondisi pancaroba dari stratigrafi dan sedimentasi pada saat sekarang. Masa-masa persaingan dan pertentangan tafsiran seperti itu tidak perlu mengecilkan hati, bahkan harus disyukuri, sebelum tiba saatnya bagi kita untuk memutuskan hipotesis dan azas praktis mana yang lebih sahih. Perlu disadari oleh para pembaca bahwa dalam tahap perkembangan ilmu yang begini cepat, prinsip-prinsip yang sekarang dipandang sahih bisa saja menjadi tidak sahih di masa mendatang dan hanya akan diingat orang sebagai suatu kilas sejarah.

Para mahasiswa dan kaum profesional yang berpengalaman didorong untuk ikut larut dalam kondisi pertentangan mengenai topik-topik tertentu yang sifatnya kontroversial seperti perbedaan pendapat antara para penulis buku-buku sejenis. Dalam buku ini penulis tidak bermaksud untuk mengkristalisasikan pemikiran stratigrafi dan sedimentasi secara tegas. Melalui buku ini kami hanya akan memberikan suatu kerangka dasar pengetahuan stratigrafi dan sedimentasi yang memungkinkan para pembaca siap untuk menerima konsep-konsep baru yang tumbuh dari data dan hasil analisis yang dilakukan di masa mendatang.

1.1.2 Sedimentasi

Dalam pengertian yang terbatas, istilah “sedimentasi” (sedimentation) dipakai untuk menamakan proses-proses pembentuk-an batuan sedimen, termasuk didalamnya asal-usul, pengangkutan, dan pengendapan material pembentuk batuan serta diagenesis dan litifikasi. Dalam pengertian yang lebih luas, istilah itu digunakan sebagai sinonim dari petrologi sedimen dan petrografi sedimen yang sama-sama membahas tentang pemerian, penggolongan, dan penafsiran batuan sedimen.

Karena batuan sedimen merupakan bahan kajian dasar dalam stratigrafi, maka pengetahuan para ahli stratigrafi lebih banyak tergantung pada sedimentasi daripada terhadap ilmu-ilmu pendukung lain. Ilmu lain yang memberikan dukungan sekunder pada stratigrafi adalah paleontologi. Buku ini banyak membahas tentang materi sedimentasi. Hal ini dilakukan karena para mahasiswa strata-1 umumnya kurang mendapat materi sedimentasi yang cukup kuat; tidak demikian halnya dengan paleontologi. Karena itu, dalam buku ini penulis menekankan aspek sedimentasi.

Hubungan yang erat antara stratigrafi dengan sedimentasi mirip dengan hubungan antara biologi dengan paleontologi. Biologi terutama mempelajari proses-proses dan pola-pola organik masa kini. Proses-proses dan pola-pola organik masa lalu menghasilkan rekaman paleontologi yang harus ditafsirkan dengan cara menerapkan prinsip-prinsip biologi. Analog dengan itu, studi prosers-proses pembentukan dan penyebaran sedimen resen yang dilakukan oleh para ahli sedimentasi menghasilkan prinsip-prinsip yang bisa dipakai untuk menafsirkan rekaman batuan. Rekaman stratigrafi sebagian besar merupakan produk sedimentasi yang berlangsung secara kontinu selama waktu geologi.

1.1.3 Stratigrafi Akademis dan Stratigrafi Terapan

Pada masa lalu ada kecenderungan untuk membuat membedakan stratigrafi “akademis” dengan stratigrafi “praktis” atau stratigrafi “terapan”. Secara akademis, stratigrafi diarahkan pada kegiatan pemerian dan penamaan satuan-satuan stratigrafi serta analisis rekaman sedimen untuk merekonstruksikan sejarah geologi. Stratigrafi terapan, di lain pihak, sering dipandang hanya terbatas pada studi untuk mengenal dan menentukan lokasi satuan batuan yang berasosiasi dengan mineral ekonomis.

Dewasa ini, batas-batas antara stratigrafi “akademis” dengan stratigrafi “terapan” makin tidak jelas. Banyak prinsip dan konsep yang semula dianggap hanya menarik dari sisi akademis, tertanya dapat diterapkan langsung untuk memecahkan berbagai masalah praktis. Dengan makin disadarinya bahwa penelitian-penelitian stratigrafi merupakan ancangan yang sahih untuk menemukan migas, para ahli stratigrafi sekarang merupakan pihak yang paling aktif dalam mengembangkan berbagai prinsip dan konsep stratigrafi tingkat lanjut.

1.2 SUSUNAN MATERI BAHASAN

1.2.1 Stratigrafi Fisik dan Biostratigrafi

Materi bahasan stratigrafi secara konvensional dibagi menjadi dua bagian, yakni stratigrafi fisik dan biostratigrafi (tabel 1-1). Stratigrafi fisik mencakup semua komponen sedimentasi, ditambah aspek-aspek fisik dari stratigrafi analitik-interpretatif. Bio-stratigrafi banyak mencakup pengetahuan biologi dan paleontologi yang dapat diterapkan pada studi stratigrafi.

Sebagaimana diindikasikan oleh tabel 1-1, semua komponen stratigrafi fisik analog dengan komponen biostratigrafi. Walau demikian, ada perbedaan antara keduanya. Menurut prinsip uniformitarisme, materi-materi stratigrafi fisik dapat diasumsikan relatif konstan selama waktu geologi serta dikenai oleh proses-proses fisika dan kimia yang seragam. Di lain pihak, semua materi organik dari biostratigrafi berubah secara progresif dari waktu ke waktu di bawah pengaruh evolusi organik.

1.2.2 Penyusunan Data Stratigrafi

Penyelesaian masalah stratigrafi dimulai dengan pengamatan dan penyusunan bahan kajian secara sistematis (tabel 1-1). Semua bahan kajian diperoleh dari hasil pengamatan singkapan atau kegiatan pemboran. Sejarah dan penanganan praktis yang dilakukan untuk menggolongkan dan menyusun kolom stratigrafi akan dibahas pada Bab 2. Bagi mahasiswa yang belum berpengalaman atau belum terlatih dalam kegiatan pengumpulan informasi stratigrafi, dalam Bab 3 akan dijelaskan cara-cara yang dapat dipakai untuk memperolehnya.

Bab 4 dan Bab 5 akan menjelaskan sifat, komposisi, dan penggolongan sedimen dan batuan sedimen. Penjelasan ini dibuat dengan asumsi bahwa pembaca telah memiliki pengetahuan dasar paleontologi. Karena itu, materi paleontologi yang analog dengan penjelasan untuk sedimen dan batuan sedimen tidak dijelaskan lagi dalam buku ini.

Hal mendasar yang perlu dimiliki untuk dapat menyusun bahan kajian stratigrafi adalah pengetahuan tentang proses sedimentasi dan semua faktor biologi yang memegang peranan penting dalam stratigrafi, termasuk didalamnya penyigian gejala-gejala fisik dan biologi dari lingkungan sedimen. Hal itu akan dibahas pada Bab 6, 7, dan 8.

1.2.3 Stratigrafi Analitik

Analisis stratigrafi mencakup kegiatan penggabungan data hasil pemerian dan penyusunan data itu. Proses penggabungan memungkinkan diterapkannya prinsip-prinsip stratigrafi sedemikian rupa sehingga data mentah akan berubah menjadi data yang siap ditafsirkan. Aspek-aspek analitik dari stratigrafi akan dijelaskan pada Bab 9, bersamaan dengan pembahasan tentang hubungan vertikal dan lateral dari strata. Topik yang kompleks ini memerlukan penggabungan banyak materi yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya serta merupakan suatu syarat mutlak untuk memecahkan masalah korelasi stratigrafi yang kompleks. Korelasi, yakni penggambaran ekivalensi satuan-satuan stratigrafi, akan dibahas pada Bab 10.

Tektonik kerak bumi mempengaruhi ketebalan dan karakter sedimen yang terakumulasi. Khuluk kerangka tektonik sedimen-tasi, prinsip-prinsip geotektonik, serta pendekatan praktis dan teoritis terhadap tektonik sedimen akan dibahas pada Bab 11.

Bab 12 menjelaskan tipe-tipe peta stratigrafi, teknik pemetaan trimatra, dan penerapan teknik tersebut untuk memecahkan masalah stratigrafi. Batuan sedimen dapat membentuk asosiasi-asosiasi alami yang beragam. Asosiasi litologi dan implikasinya akan dibahas pada Bab 13. Asosiasi ini merupakan tahapan puncak dalam kegiatan analisis dan presentasi data stratigrafi.

1.2.4 Stratigrafi Interpretatif

Sebagian besar studi stratigrafi dilakukan untuk menyelesaikan masalah paleogeografi, geologi sejarah, atau geologi ekonomi. Stratigrafi interpretatif merupakan fasa akhir dari studi stratigrafi. Pada fasa ini berbagai data yang telah dikumpulkan, disusun, dan dianalisis mulai disintesakan dan ditafsirkan. Tampaknya apa yang telah dikemukakan oleh Grabau (1913) dalam paragraf terakhir dari Principles of Stratigraphy masih tetap sesuai untuk kita hayati bersama:

“When the science of Stratigraphy has developed so that its basis is no longer purely or chiefly paleontological, and when the sciences of Lithogenesis [sedimentation], of Orogenesis and Glyptogenesis [gradation], as well as of Biogenesis, are given their due share in the comprehensive investigation of the history of our earth, then we may hope that paleogeography, the youthful daughter science of Stratigraphy, will have attained unto that stature which will make it the crowning attraction to the student of earth history.”

1.3 BIBLIOGRAFI

Banyak materi bahasan buku ini diambil dari berbagai makalah yang tersebar dalam literatur ilmiah yang terus bertambah. Pengacuan terhadap makalah-makalah penting diperlihatkan dalam teks buku ini. Daftar bacaan yang dijadikan acuan dalam penyusunan setiap bab disajikan pada akhir dari buku ini.

Pembaca, khususnya para mahasiswa, hendaknya menyadari bahwa dari waktu ke waktu banyak data dan konsep baru memasuki dunia stratigrafi dan sedimentasi. Bibliografi yang disajikan dalam buku ini terutama ditujukan pada karya-karya tulis penting yang diterbitkan sebelum tahun 1961. Pembaca hendaknya sering menelaah karya tulis baru yang dapat berperan sebagai pelengkap, penyempurna, atau pengganti konsep-konsep lama sedemikian rupa sehingga dapat terus mengikuti perkembangan stratigrafi dan sedimentasi.

Bacaan-bacaan standar yang dapat digunakan sebagai bahan kajian tambahan untuk memahami isi buku ini adalah:

Dunbar, C. O. dan J. Rodgers. 1957. Principles of Stratigraphy. New York: John Wiley & Sons.

[Buku tingkat menengah yang ditulis oleh otoritas stratigrafi. Satu kelebihan yang dapat dilihat dari Principles of Stratigraphy adalah pembahasannya yang baik mengenai lingkungan pengendapan serta pemaparan yang jelas tentang konsep-konsep stratigrafi dan penerapannya. Banyak konsep yang diajukan oleh kedua penulis ini berbeda dengan konsep yang dijelaskan dalam Stratigraphy and Sedimentation]

Pettijohn, F. J. 1957. Sedimentary Rocks. Edisi-2. New York: Harper.

[Buku dan acuan tingkat tinggi yagn membahas tentang sedimen dan batuan sedimen: pemerian, penggolongan, dan penafsirannya. Isi dari Stratigraphy and Sedimentation banyak dipengaruhi oleh buku ini. Pembaca diharapkan dapat mengacu Sedimentary Rocks bila penjelasan dalam Stratigraphy and Sedimentation belum jelas].

Twenhofel, W. H. 1950. Principles of Sedimentation. New York: McGraw-Hill.

[Buku ajar tingkat menengah yang membahas tentang batuan sedimen dan proses sedimentasi. Buku klasik ini dipandang sebagai puncak karya seorang ahli stratigrafi dan sedimentasi Amerika. Buku ini tidak membahas pemerian dan penafsiran secara lengkap].

Weller, J. M. 1960. Stratigraphic Principles and Practices. New York: Harper.

[Buku ajar tingkat tinggi yang membahas banyak topik yang mirip dengan topik bahasan Stratigraphy and Sedimentation. Buku ini merupakan produk integrasi dan sintesis oleh seorang peneliti yang berpengalaman baik dalam aspek fisik maupun aspek biologi dari stratigrafi. Sebagian tafsiran yang disajikan dalam Stratigraphic Principles and Practices berbeda dengan apa yang tercantum dalam Stratigraphy and Sedimentation. Karena itu, Stratigraphic Principles and Practices dapat dijadikan salah satu acuan untuk memperoleh pandangan yang berbeda dari apa yang disajikan dalam Stratigraphy and Sedimentation].

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s