Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

Stratigrafi dan Sedimentasi (Krumbein & Sloss, 1963)(part 2)

Leave a comment

KOLOM STRATIGRAFI

2.1 TINJAUAN UMUM

Batuan sedimen adalah bahan dasar yang dipelajari dalam stratigrafi. Singkapan alami, lubang pertambangan, dan lubang bor memungkinkan banyaknya batuan sedimen yang dapat dipelajari. Singkapan sedimen mencapai daerah seluas 40 juta mil persegi. Dari sebagian singkapan itu diperoleh banyak sekali data stratigrafi. Data itu terus bertambah sejalan dengan meningkatnya penelitian stratigrafi, baik di daerah-daerah yang pernah diteliti, maupun di daerah-daerah penelitian baru. Banyak diantara data tersebut berasal dari daerah paparan dan cekungan samudra.

Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral banyak menghasilkan data stratigrafi. Untuk Amerika Serikat dan Kanada saja, setiap tahun dibuat hampir 60.000 sumur migas yang menembus lebih kurang 45.000 mil sedimen.

Tugas para ahli stratigrafi adalah menyusun dan menggabungkan semua informasi tersebut sedemikian rupa sehingga akan diperoleh pengetahuan yang penting bagi ilmu bumi. Penyusunan dan penggabungan itu dilakukan melalui 3 tahapan logis sebagai berikut:

1. Penentuan urut-urutan batuan sedimen penyusun kolom stratigrafi yang ada di suatu daerah.

2. Pembagian dan pengenalan kolom stratigrafi ke dalam satuan-satuan stratigrafi.

3. Satuan-satuan tersebut, serta peristiwa fisik dan biologi yang dicerminkannya, ditempatkan dalam posisinya dalam tahap-tahap perkembangan bumi.

Tahap studi stratigrafi yang pertama, yakni penyusunan kolom stratigrafi, merupakan tugas yang tidak asing bagi para ahli geologi. Karena itu, kita tidak akan membahas secara langsung hal itu sekarang. Aspek-aspek tertentu dari penggabungan kolom stratigrafi akan dibahas pada Bab 3 dan Bab 10. Bab ini terutama akan membahas tentang hal-hal yang lebih konvensional, yakni pembagian kolom stratigrafi serta kaitannya dengan pembagian skala waktu geologi.

2.2 PERKEMBANGAN PENGGOLONGAN STRATIGRAFI

Banyak istilah dan konsep pembagian kolom stratigrafi yang dikembangkan sekarang ini merupakan warisan dari saat-saat dimana informasi geologi mendetil belum banyak diperoleh.

Rasanya pembaca akan sepakat bila kita mencoba menelusuri kembali sejarah perkembangan tatanama dan teori pembagian kolom stratigrafi. Tinjauan sejarah seperti itu sangat bermanfaat untuk menilai apakah konsep dan tatanama stratigrafi masih diperlukan sekarang serta apakah perlu atau tidak untuk memperluas pengetahuan tersebut.

2.2.1 Konsep-Konsep Lama

Bila kita lihat sejarah perkembangan ilmu geologi, maka “Abad Kegelapan” bagi ilmu ini terjadi hingga pertengahan abad 18. Hal ini mungkint erjadi karena terhambatnya masa kebangkitan ilmiah, dimana hambatan itu sendiri karena adanya dominasi gagasan yang bersumber dari hasil penafsiran yang sempit terhadap Kitab Kejadian (the Book of Genesis). Di bawah pengaruhi ni, rentang waktu geologi dipandang hanya beberapa ribu tahun; sedimen dipandang sebagai endapan pada saat terjadinya Banjir Nabi Nuh; fosil ditafsirkan bermacam-macam, mulai dari sisa-sisa mahluk hidup yang mati pada saat terjadinya Banjir Nabi Nuh, ciptaan setan, hingga “batu tulis”.

Sebenarnya sejak pertengahan abad 17, para peneliti ilmiah seperti Steno (orang Itali) dan Hooke (orang Inggris) telah memberikan tafsiran yang hampir tepat mengenai arti fosil serta menyadari adanya urut-urutan kronologis strata batuan. Namun, iklim filsafat saat itu tidak menunjang orang untyuk meneliti kerak bumi, kecuali penelitian yang berkaitan dengan pencarian mineral ekonomis. Spekulasi radikal tidak muncul saat itu dan perkembangan stratigrafi saat itu berlangsung sangat lambat.

2.2.2 Usaha Pertama untuk Mengelompokkan Strata

Pada paruh kedua dari abad 18, mulai terbit Abad Pencerahan. Sejalan dengan itu, perhatian terhadap benda-benda yang ada disekelilingnya, termasuk batuan berlapis, mulai berkembang. Tidak heran bila orang-orang yang bekerja untuk menambang batubara, mineral logam, atau sumberdaya mineral lainnya merupakan orang-orang pertama yang menyadari pentingnya hipotesis-hipotesis ilmiah yang dapat dipakai sebagai petunjuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang mereka lakukan. Tulisan-tulisan yang berasal dari masa itu melukiskan bagaimana orang-orang telah mencoba mengkoordinasikan data batuan sedimen yang mereka peroleh dari lubang-lubang pertambangan, kemudian menampilkannya ndalam susunan yang logis.

Bila kita lihat literatur ilmiah tahun 1750-an dan 1760-an, kita akan melihat adanya usaha-usaha pengelompokkan yang lebih mengarah pada penyusunan bahan kajian stratigrafi secara rasional. Salah satu usaha pengelompokkan yang pertama dilakukan oleh Johann Gottlob Lehmann, seorang ahli mineralogi dan ahli pertambangan berkebangsaan Jerman. Pada 1756, Lehmann menerbitkan suatu skema penggolongan batuan penyusun kerak bumi ke dalam tiga kategori:

1. Batuan kristalin yang tidak mengandung fosil serta diyakininya terbentuk secara kimiawi pada saat dimana kehidupan belum berkembang. Batuan ini diberi suatu nama yang artinya lebih kurang “primitif”.

2. Batuan “sekunder”; batuan berlapis, mengandung fosil, serta mengandung partikel-partikel batuan yang lebih tua.

3. Material lepas seperti pasir dan gravel atau yang dinamakan sebagai “aluvium”.

Dewasa ini diketahui bahwa konotasi umur relatif berdasarkan litologi yang secara implisit dikemukakan oleh Lehmann ternyata tidak sahih. Batuan-batuan yang dia masukkan ke dalam kategori “primitif” dan “sekunder” ternyata sekarang ditemukan hampir di setiap bagian kolom stratigrafi. Walau demikian, penggolongan seperti itu memberikan suatu kerangka dasar untuk melakukan studi yang teratur terhadap batuan. Karena itu, terlepas dari kekeliruan yang dibuatnya, Lehmann telah memberikan kemajuan yang berarti terhadap pemikiran konstruktif.

Giovanni Arduino, seorang guru besar dan direktur lembaga pertambangan salah satu provinsi di Itali, tampaknya merupakan orang pertama yang menerapkan istilah “primitif”, “sekunder”, dan “tersier” untuk menggolongkan strata ke dalam urut-urutan stratigrafi. Dia menunjukkan penerapan yang luas dari pengelompokkan itu serta menunjukkan hubungan umur antara kelompok-kelompok batuan tersebut.

Georg Christian Fuchsel, seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman, mencoba mengenal dan menelusuri, dalam suatu peta, delapan “formasi” dan “seri” strata pembentuk suatu paket stratigrafi yang terletak di atas batuan kristalin yang ada di Pegunungan Harz dan Thuringian Forest. Setiap kelompok strata itu dia lukiskan litologi dan paleontologinya, kemudian diletakkan pada bagian-bagian tertentu dari kolom geologi.

Rampatan-rampatan yang dibuat oleh para peneliti tersebut di atas kemudian diadopsi oleh Abraham Gottlob Werner, seorang guru besar yang sangat berpengaruh pada Frieberg Mining Academy. Werner adalah seorang organisator besar material geologi pertama yang mencoba merampatkan kumpulan data mineralogi, petrologi, dan stratigrafi yang tampak khaotik dan campur aduk itu. Meskipun Werner tidak banyak menulis, namun kehebatannya sebagai seorang dosen telah mendominasi gagasan geologi selama 25 tahun terakhir dari abad 18 serta beberapa dasawarsa awal dari abad 19.

2.7.2 Satuan-Satuan Batuan dalam Survey Owen

Satuan-satuan yang dinyatakan dan dapat dipetakan oleh Owen (1852) sebagai agian-bagian kolom stratigrafi di daerah Lembah Mississippi yang terltak di bagian timurlaut Iowa, bagian tenggara Minnesota, dapat dilihat pada tabel 2-2.

Perhatikan bahwa nama-nama satuan yang diajukan oleh Owen dan para asistennya bersifat deskriptif murni dan diambil berdasarkan karkter litologi, kandungan fosil, tempat tersingkapnya, produk ekonomis, dan posisi relatifnya. Nama-nama seperti itu dibuat semata-mata digunakan untuk mengenal satuan-satuan strata dalam catatan lapangan serta untuk keperluan diskusi diantara para ahli geologi yang terlibat dalam penelitian itu. Dalam sandi, nama-nama seperti itu dipandang bersifat tidak resmi. Penamaan satuan seperti itu juga dilakukan oleh para ahli geologi Inggris dan Eropa daratan. Karena itu, misalnya saja, dalam literatur stratigrafi Inggris dan Eropa daratan saat itu kita akan menemukan istilah-istilah “satuan” Inferior oolite, Rothliegende, Lingula flags, dsb.

Satuan strata yang dikenal berdasrkan Survey Owen semata-mata didasarkan pada gejala yang khas dan dapat teramati di lapangan serta ditemukan pada banyak penampang terukur serta litograf diagramatis yang menyertai laporan survey terrsebut. Salah satu lukisan seperti itu, disajikan dalam buku ini sebagai gambar 2-1, memperlihatkan karakter singkapan dari sejumlah satuan yang terletak di bawah Lower Magnesian Limestone sebagaimana terlihat pada singkapan pada sebuah

2.7.3 Satuan-Satuan Kronostratigrafi dalam Survey Owen

Satuan-satuan batuan, mineral, dan fosil sudah cukup memadai untuk kebutuhan pemetaan, penafsiran struktur deformasi, serta mengindikasikan penyebaran tanah dan sumberdaya mineral. Walau demikian, para peneliti pada survey itu tidak menetapkan hubungan antara stratigrafi Upper Mississippi Valley dengan stratigrafi daerah-daerah lain yang pernah diteliti di seluruh dunia.

Pada abad 19, konsep-konsep kronostratigrafi (time-stratigraphic concepts) didominasi oleh Filsafat Katastrofisme. “Sistem-sistem” yang dikenal oleh Lyell, Murchison, dan Phillips di Eropa diyakini melibatkan paket batuan, kumpulan paleontologi, dan endapan mineral yang sama di seluruh bagian Eropa, kecuali untuk hal-hal yang sifatnya merupakan variasi lokal. Selain itu, setiap satuan batuan dipandang memiliki posisi universal yang tetap dalam kerangka waktu geologi. Bijih timbang dan seng yang ada di Upper Mississippi Valley, misalnya saja, dipandang menempati posisi stratigrafi dan posisi kronologi yang sama dengan endapan sejenis yang ditemukan di Wales. Karena itu, tidak mengherankan apabila sebagian besar bagian penampang stratigrafi yang diperoleh dari hasil Survey Owen diperkirakan merepresentasikan peristiwa-peristiwa yang simultan dan berlangsung secara universal. Strata itu dinamakan “Silur” karena mengandung “fosil Silur” dan bahwa fosil-fosil itu dinisbahkan pada jaman “Silur” karena muncul dalam strata yang termasuk ke dalam “Sistem Silur”. Praktek dan konsep seperti itu tidak jelas terlihat bertentangan dengan pengetahuan stratigrafi pada waktu itu. Selain itu, para ahli saat itu agaknya tidak memandang perlu untuk menelaah sejauh mana pola penalaran yang berputar seperti itu terlibat dalam penelitian stratigrafi.

Dalam iklim filsafat seperti itu, tidak mengerankan apabila Owen dan para pionir stratigrafi Amerika Utara

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s