Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours

Bukan Realita Cinta dan Bukan Rock n Roll

Leave a comment

selepas magrib senja kemarin adalah waktu untuk beranjak meninggalkan istri dan calon buah hati. selalu saja berat untuk meningkankan mereka berdua, tetapi saya harus pergi. pergi untuk kembali pulang dan bercengkrama penuh cinta dengan mereka. dan… cerita selanjutnya ini bukan tentang aku dan cintaku… yang diatas cuma prolog aja kok.

seperti bisa harus menuju stasiun kereta api Pasar Senen mengejar kereta ekonomi progo yang siap mengantarkan saya dan penumpang lainnya ke jogjakarta dan sekitarnya pukul 20.20 WIB. rumah istri di daerah cipondoh, jadi harus dua kali naik kendaraan. pertama naik angkot menuju rawa buaya dan selanjutnya naik transjakarta menuju daerah Senen.

inilah kejadian miris yang sedikit nyelip di otak. berawal dari tunggu kedatangan armada trans jakarta dengan trayek menuju Pulo Gadung. lama bener bus nya datang. jangankan yang arah ke Pulo Gadungnya, yang ke harmoni aja lama bener datangnya. padahal penumpang dah mulai numpuk di shelter. setelah setengah jam akhirnya datang juga bus yang di tunggu. dari arah kali deres saja sudah mulai penuh. alhamdulillah masih bisa naik walau mulai sumpek.

 

bus mulai berjalan. dua shelter selepas rawa buaya ada keluarga kecil yang naik, sang ibu sambil menggendong bayi. setelah naik keluarga ini menuju bagian depan yang buat penumpang wanita. sang kondektur transjakarta kemudian mempersilahkan keluarga ini untuk ke belakang saja. sambil sedikit berteriak dia berkata “buat yang laki-laki tolong ya. tolong beri tempat duduk. ada bayi. tolong ya buat yang merasa laki-laki. bapak yang pakai topi… tolong…” entah berapa kali dia mengucapkan kata “tolong” untuk mencarikan tempat duduk buat sang ibu dan bayinya namun belum ada yang beranjak. kemudian dia berkata lagi “yang laki-laki pada nggak tau malu ya. tolong ada bayi ini… tolong…” tetap saja para laki-laki yang duduk enak di kursi transjakarta masih tetap tidak bergerak. semua padang muka tembok, stel muka tidak dengar.

dari depan terdengar suara perempuan nyeletuk, “di belakang nggak ada laki-laki. perempuan semua yang duduk…”. ahhh rasanya nyelekit di hati kalau sampai laki-laki dibilang seperti itu. tapi apa mau dikata, emang kenyataannya pada banci semua. lantas sedikit agak lama ada yang berdiri dan mempersilahkan sang ibu dan bayi duduk.

kenyataan seperti ini mungkin pemandangan yang sudah sangat sering bahkan menjadi kebiasaan untuk kota sebesar jakarta kali yaaa. semua butuh kenyamanan, semua bilang bayar yang sama ya dapat fasilitas yang sama, kalo nggak dapat ya apes anda sendiri lah. sepertinya sifat mengalah untuk orang yang lebih membutuhkan sudah mulai luntur. kasihan negeri ini… sudah seperti robot saja para manusianya.

salut saya buat petugas transjakartanya yang berusahakan untuk dapat tempat duduk buat sang ibu dan bayi, juga buat pemuda yang berdiri dan mempersilahkan tempatnya digunakan walau sedikit agak lama dia berdirinya.

Author: MualMaul

leaving as a legend!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s