Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours


Leave a comment

KORELASI STRATIGRAFI (disarikan dari Sam Boggs Jr. 1995. Principles of Sedimentology and Stratigraphy. edisi-2. Englewood-Cliffs: Prentice-Hall. Hlm 519-529; 561; 580-581; 613-625; 650-666)

PENDAHULUAN

Dalam pengertiannya yang paling sederhana, korelasi diartikan sebagai usaha untuk menunjukkan ekivalensi satuan-satuan stratigrafi. Korelasi merupakan bagian fundamental dari stratigrafi dan banyak usaha telah dilakukan oleh para ahli untuk menciptakan satuan-satuan stratigrafi resmi yang pada gilirannya memungkinkan ditemukannya metoda-metoda praktis dan handal untuk mengkorelasikan satuan-satuan tersebut. Tanpa korelasi, penelaahan stratigrafi tidak lebih dari sekedar pemerian stratigrafi lokal.

Konsep korelasi menembus jauh kepada akar stratigrafi. Prinsip-prinsip dasar korelasi telah ditampilkan dalam ber-bagai buku ajar lama mengenai geologi dan stratigrafi. Pembahasan yang menarik mengenai hal ini dilakukan oleh Dunbar & Rodgers (1957), Weller (1960), serta Krumbein & Sloss (1963). Terus meningkatnya ketertarikan para ahli pada masalah korelasi antara lain ditunjukkan oleh terbitnya sejumlah karya tulis baru mengenai korelasi, khususnya korelasi yang dilakukan dengan menggunakan metoda statistika (a.l. Agterberg, 1990; Cubitt & Reyment, 1982; Mann, 1981; Merriam, 1981).

Konsep-konsep dasar korelasi stratigrafi telah ditetapkan dengan mantap pada dasawarsa 1950-an dan 1960-an. Prinsip-prinsip dasar tersebut yang masih tetap penting dewasa ini. Walau demikian, munculnya berbagai konsep dan metoda analisis baru hingga tingkat tertentu telah mengubah persepsi kita mengenai korelasi serta menelurkan metoda-metoda korelasi baru. Perkembangan magnetostratigrafi sejak dasawarsa 1950-an, misalnya saja, terbukti merupakan alat baru yang sangat penting untuk korelasi kronostratigrafi berdasarkan magnetic polarity events. Selain itu, perkembangan baru dalam teknologi komputer dan penerapan metoda-metoda statistika dalam korelasi statigrafi telah banyak mem-berikan nilai kuantitatif pada korelasi stratigrafi. Dalam tulisan ini saya akan mencoba menyajikan sejumlah perkembangan baru tersebut, bersama-sama dengan konsep-konsep korelasi stratigrafi “klasik.”


Leave a comment

KORELASI (disarikan dari J Marvin Weller. 1960. Stratigraphic Principles and Practice. New York: Haper & Brothers. 540-569)

Korelasi secara umum diartikan sebagai proses penentuan hubungan timbal balik. Dalam stratigrafi, istilah tersebut memiliki pengertian yang lebih terbatas, yakni proses penentuan ekivalensi waktu.

Salah satu tugas utama dari stratigrafi adalah mengkorelasikan endapan-endapan yang ada di bumi ini. Dalam penelitian stratigrafi, korelasi merupakan pekerjaan pertama yang dilakukan setelah semua tahap pengamatan dan pemerian selesai dilakukan. Dengan sarana ini kita akan mengetahui batuan-batuan mana saja yang seumur, walaupun batuan-batuan itu mungkin terpisah jauh, dan akan mengetahui urut-urutan pembentukan batuan. Tanpa korelasi, kita tidak akan pernah dapat menyusun sejarah geologi karena korelasi merupakan satu-satunya cara untuk mengaitkan berbagai peristiwa yang terjadi pada berbagai tempat dan, oleh karena itu, merupakan sarana untuk menyusun sintesa geologi.

Continue reading


Leave a comment

Stratigrafi dan Sedimentasi (Krumbein & Sloss, 1963)(part 2)

KOLOM STRATIGRAFI

2.1 TINJAUAN UMUM

Batuan sedimen adalah bahan dasar yang dipelajari dalam stratigrafi. Singkapan alami, lubang pertambangan, dan lubang bor memungkinkan banyaknya batuan sedimen yang dapat dipelajari. Singkapan sedimen mencapai daerah seluas 40 juta mil persegi. Dari sebagian singkapan itu diperoleh banyak sekali data stratigrafi. Data itu terus bertambah sejalan dengan meningkatnya penelitian stratigrafi, baik di daerah-daerah yang pernah diteliti, maupun di daerah-daerah penelitian baru. Banyak diantara data tersebut berasal dari daerah paparan dan cekungan samudra.

Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya mineral banyak menghasilkan data stratigrafi. Untuk Amerika Serikat dan Kanada saja, setiap tahun dibuat hampir 60.000 sumur migas yang menembus lebih kurang 45.000 mil sedimen.

Continue reading


Leave a comment

Stratigrafi dan Sedimentasi (Krumbein & Sloss, 1963) (part 1)

1.1 RUANG LINGKUP STRATIGRAFI DAN SEDIMENTASI

1.1.1 Stratigrafi

Dalam Principles of Stratigraphy, Grabau (1913) mendefinisikan stratigrafi sebagai “sisi anorganik dari geologi sejarah, atau perkembangan litosfir dari waktu ke waktu, selama umur geologi”. Definisi ini mencerminkan konsep semula dari stratigrafi, yaitu sebagai suatu cabang ilmu geologi yang memerikan, menyusun, dan menggolongkan batuan berlapis.

Penekanan yang diberikan Grabau pada proses-proses anorganik dan faktor-faktor organik dalam karya tulisnya secara tidak langsung memperluas definisi yang diberikannya serta mengindikasikan bahwa ruang lingkup stratigrafi mengalami perluasan, hingga mencakup sebagian besar materi bahasan paleontologi (dengan pengecualian untuk sistematika dan morfologi deskriptif dari fosil). Pada dekade-dekade berikutnya, hingga kini, ruang lingkup stratigrafi terus mengalami perluasan. Sekarang ini stratigrafi bisa dipandang sebagai disiplin terpadu yang mengkombinasikan berbagai data dari hampir semua cabang ilmu bumi sedemikian rupa sehingga dari hasil pengkombinasian itu dapat diperoleh gambaran mengenai sejarah bumi.

Continue reading