Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours


Leave a comment

BATUAN KLASTIK / TERRIGENOUS

clip_image001

PENGENALAN

Proses luluhawa akan menghakis batuan yang terdedah kepada proses ini menjadi serpihan atau pecahan batuan yang lebih kecil, dan pecahan baru ini akan dibawa oleh agen pengangkut (air dan angin) ke kawasan lain. Pecahan batuan ini akhirnya akan terkumpul di lembangan pengendapan baru, iaitu membentuk sedimen baru. Sedmen sebegini dipanggil sedimen terrigenous atau sedimen klastik.

Klastik (clastic) (bermaksud pecahan atau serpihan). Sedimen klastik mempunyai tekstur yang dipanggil;

  1. Klas (Clasts) (pecahan yang besar, contohnya pasir dan kelikir)
  2. Matrik (Matrix) (lumpur atau sedimen halus lain yang mengelilingi butiran klas)
  3. Simen (Cement) (bahan / mineral yang memegang atau mengikat klas dan simen), contohnya:
    1. kalsit
    2. oksid besi
    3. silika

Continue reading

Advertisements


1 Comment

Batuan Sedimen (Pettijohn, 1975): Bab 8. SERPIH, ARGILIT, DAN BATULANAU

BAB 8

SERPIH, ARGILIT, DAN BATULANAU

8.1 TINJAUAN UMUM

Diantara berbagai jenis batuan sedimen yang paling sering ditemukan, serpih (shale) merupakan batuan yang memiliki kelimpahan paling tinggi. Serpih membentuk sekitar 1/2 kolom geologi—44% menurut Schuchert (1931), 46% menurut Leith & Mead (1915), dan 56% menurut Kuenen (1941). Serpih membentuk sekitar 32% batuan sedimen Paleozoikum dan Kenozoikum yang ada di kraton Amerika Utara (angka itu merupakan nilai taksiran yang didasarkan pada data yang dikemukakan oleh Sloss, 1968) dan membentuk 44% paket endapan geosinklin di Jackson, Wyoming (Schwab, 1969). Blatt (1970) memperkirakan bahwa 69% sedimen benua yang ada di seluruh permukaan bumi berupa serpih. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan geokimia tertentu, serpih membentuk 80% semua sedimen yang dihasilkan selama sejarah geologi (Clarke, 1924).

Continue reading


4 Comments

Batuan Sedimen (Pettijohn, 1975): Bab 7. PASIR DAN BATUPASIR

BAB 7

PASIR DAN BATUPASIR

7.1 TINJAUAN UMUM

Batupasir (sandstone) merupakan suatu kategori batuan sedimen yang penting. Batupasir membentuk sekitar 1/4 volume batuan sedimen, belum termasuk pasir karbonat (carbonate sand) dan pasir vulkanik (volcanic sand). Selain volumenya, pasir dan batupasir juga memiliki kebenaan tersendiri karena sebagian pasir dan batupasir merupakan sumberdaya ekonomi: (1) sebagai material abrasif; (2) sebagai bahan dasar dalam industri kimia, gelas, dan metalurgi; (3) sebagai bahan bangunan, baik sebagai batu yang langsung digunakan dalam pembangunan maupun sebagai bahan campuran tembok dan beton; (4) sebagai molding sand, paper filler, dsb. Pasir juga merupakan reservoar yang penting untuk minyakbumi, gasbumi, dan air tanah. Sebagian pasir plaser merupakan sumber mineral bijih dan batu mulia. Erosi dan pengendapan pasir memegang peranan penting dalam dunia rekayasa di wilayah pantai, sungai, dan gumuk.

Continue reading


3 Comments

Batuan Sedimen (Pettijohn, 1975): Bab 6. GRAVEL, KONGLOMERAT, DAN BREKSI

BAB 6

GRAVEL, KONGLOMERAT, DAN BREKSI

6.1 TINJAUAN UMUM

Gravel merupakan akumulasi fragmen-fragmen membundar berukuran lebih besar daripada pasir yang belum terkonsolidasi. Para ahli belum memperoleh kesepakatan mengenai limit besar butir terkecil dari fragmen penyusun gravel, meskipun umumnya diletakkan pada nilai diameter 2 mm (Wentworth, 1922a, 1935) atau 5 mm (Cayeux, 1929). Material yang memiliki diameter 2 hingga 4 mm dinamakan gravel granul (granule gravel) (Wentworth, 1922a) atau gravel sangat halus (very fine gravel) (Lane dkk, 1947). Para ahli juga belum sepakat mengenai persentase minimal partikel gravel, relatif terhadap persentase total endapan, untuk menyatakan suatu endapan sebagai gravel. Analisis aktual menunjukkan bahwa para ahli geologi lapangan cenderung untuk menamakan suatu endapan sebagai gravel meskipun proporsi partikel gravel dalam endapan itu kurang dari setengahnya. Sebagian batuan, misalnya tilit (tillite) yang mengandung partikel gravel kurang dari 10% tetap dinamakan konglomerat. Willman (1942) mengusulkan definisi-definisi berikut untuk digunakan dalam penamaan lapangan: gravel mengandung partikel gravel 50–100%; gravel pasiran (sandy gravel) mengandung partikel gravel 25–50% dan mengandung partikel pasir 50–75%; pasir gravelan (gravelly sand) mengandung partikel gravel kurang dari 25%; sedangkan pasir hendaknya mengandung partikel pasir 75–100% (gambar 6-1). Folk (1954) menggunakan istilah gravel untuk menamakan endapan yang mengandung partikel gravel paling tidak 30%, sedangkan pasir atau lumpur yang mengandung gravel 5–30% berturut-turut dinamakan pasir gravelan dan lumpur gravelan. Usulan-usulan yang berbeda pernah diajukan oleh Wentworth (1922a) dan Krynine (1948).

Continue reading


Leave a comment

Batuan Sedimen (Pettijohn, 1975): Bab 5. GEOMETRI ENDAPAN SEDIMEN

BAB 5

GEOMETRI ENDAPAN SEDIMEN

5.1 TINJAUAN UMUM

Sebagaimana batuan beku, batuan sedimen memiliki geometri yang beragam. Ketertarikan para ahli terhadap geometri batuan sedimen sebagian besar dipicu oleh kegiatan eksplorasi migas karena akumulasi-akumulasi migas memiliki kaitan dengan batuan sedimen yang memiliki geometri tertentu (misalnya dengan terumbu dan batupasir talisepatu). Selain itu, pengetahuan mengenai geometri sebagian besar tumbuh dari kegiatan eksplorasi migas karena lubang-lubang pengeboran yang relatif berdekatan memungkinkan diketahuinya detil-detil geometri batuan sedimen. Apa yang dimaksud dengan geometri adalah bentuk umum dan dimensi (bukan susunan internalnya), meskipun kedua hal itu saling berkaitan. Susunan internal batuan sedimen akan dibahas pada Bab 15 karena bentuk eksternal dan susunan internal endapan sedimen memegang peranan penting dalam analisis lingkungan pengendapan.

Continue reading