Wingman Arrows

La Douleur Est Temporaire, La Victoire Est Toujours


Leave a comment

apa kabarnya JEJAK TITAN?

ahhh rasanya sudah sekian lama aku tidak pernah ingat akan cerita bersambung milikku ini. bahkan alur ceritanya pun aku sudah lupa padahal baru 6 chapter saja. betul sekali baru 6 chapter yang berhasil dipublish. kenapa sekarang jadi ingat? yaaaahhh… setelah tadi dapat masukan tentang copyright dan copas klik kanan dari kakak iparku yang jauh di Jerman sana, akhirnya aku buka-buka lagi tulisan yang dulu-dulu.

soal menyoal copas dan sebagainya memang ngena banget di blog ku yang sebagian besar hasil copasan. tentu yang di bagian kategori GEOLOGI. aku bukan orang yang menulis semua hal tentang geologi yang terpublish di blog. mungkin hanya 2 saja yang milikku. hahaha… yaaa itu tu draft seminar geologiku yang menyangkut air dan geothermal.

balik lagi ke JEJAK TITIAN dan lai sebagainya di luar kategori geologi itu adalah hak ku. karena keluar dari olah tangan dan oleh pikir pribadiku. entahlah… sepertinya jika ada yang ingin copas ya silahkan saja asalkan berguna buat orang yang copas. seperti jejak titian ini.. kalau mau copas ya sok dahhh… lagian ceritanya juga biasa aja. hahahaha… asala jangan mpe ketahuan yaaaaa…

setelah dicermati lagi… lompatan dari jejak titan chapter 5 ke jejak titian chapter 6 itu jauh banget. maka dari itu chapter 6 akan ditarik dan di ganti dengan chapter 6 yang baru. kenapa demikian? dulu otak ku mentok waktu mau nulis chapter 6. bayangkan saja dari chapter 1 sampai chapter 5 setting waktunya cuma sehari ehhh di chapter 6 langsung lompat beberapa tahun kemudian. wakakakaka… entah apa yang ada di pikiranku saat itu.

mohon maaf kepada segenap penggemar jejak titian (kalaupun itu ada… hahaha) atas kejadian ini. sepertinya saya masih ingin menemukan reliku cerita tentang Abdu kecil. sepertinya bisa dapat banyak cerita, makanya chapter 6 akan diganti.

sekian dan terima kasih…

eps kaaaaa…. hahahaha

Advertisements


Leave a comment

JEJAK TITIAN (chapter 6)

Ramai riuh kantin bersuara canda tawa dan ejekan ringan diantara santapan khas sederhana ala kantin kampus, dalam keakraban abdullah mencoba ambil posisi. Sembari sesekali melayangkan suara lantang namun tersirat guyonan nakal sedikit mengelitik mengenang kisah ospek. Dari seberang meja tak kalah nyaringnya sahutan lelaki teraniaya ejekan itu balik membalas, dan terpecah kembali canda tawa mengakrabkan suasana. Continue reading


4 Comments

JEJAK TITIAN (chapter 5)

sekembalinya makan dari tempat biasa di warung mbok Sumi yang menyediakan menu lauk pauk khas warung tegal yang super murah meriah, kedua makhluk yang mencoba menapaki dunia dengan sejuta senyuman ini terlihat bercanda beriringan. jarak dari warung itu tidak jau dari petak mereka jadi hanya butuh waktu sepuluh menit saja mereka sudah kembali berada sekitar peraduan kecilnya.

“bang Ali, nanti saja belajar gripnya, jari tanganku masih terlalu perawan untuk dipatah-patahkan seperti punya abang.” bilang Abdulah sembari merebahkan tubuhnya diatas alas kardus yang mulai tidak beraturan. tangannya meraih gitar dan menyiapkan gaya dan suara demi melantunkan lagu idolanya.

Ali menyusul duduk disamping tubuh lelaki kecil itu. sejenak dia menikmati suasana menerawang langit yang cerah mengingat sepintas potongan-potongan yang menyapanya ketika mengamen di bis kota dan warung-warung makan. sekelebat diapun mencoba menghilangkan senyuman itu sambil meraih kata-kata yang baru keluar dari mulut Abdu. “apa Du? perawan…??? kamu tahu apa sih soal perawan… hahahaha…” tanyanya memecah terdengar sedikit menggoda

Abdu malah balik bingung dengan Abang nya yang satu ini. dipikirannya menjadi aneh. “Bang, apa lagi ini? orang ngomongin jari kok yang ditekankan malah kata perawannya. ayo ngaku abang lagi ngelamun jorok ya…” balas abdu menggoda Ali.

“waduh… sabar dulu Du, bukan itu intiya. hahahaha… kamu ini mau digoda malah balas menggoda”. Ali mulai merubah arah pembicaraannya karena dia tahu jika diteruskan ujung-ujungnya bisa berakibat fatal terhadap perkembangan diri bocah itu. “sudah…sudah… mainkan saja gitarnya. rekues lagunya Kuburan saja yang A minor ke D itu… ayo…” pinta Ali.

“Ok bang” sahut lelaki kecil itu sambil memainkan gitar dengan jari-jari kecilnya. “…lupa..lupa..lupa…lupaaa… aku lupa liriknya….” sambil sesekali terlihat senyum dan tawa kecil darinya dikarenankan suaranya yang aneh dan permainan gitar yang super-super berantakan. Ali pun memakluminya karena Abdu memang baru beberapa bulan belajar main gitar darinya.

kehidupan anak jalanan seperti mereka mengharuskan lika-liku yang mungkin tidak dirasakan oleh anak-anak orang kaya yang hanya menikmati hasil keringat orang tua mereka dan parahnya mereka selalu bangga dengan semua itu. tawa, tangis, diam dan berteriak bagi mereka yang tidak pernah merasakan kenikmatan hidup selalu membawa cerita bagi kehidupannya.

sejenak sebelum beranjak menutup hari di petak kecil, suara gitar itu masih mengiringi suasana malam yang hangat diantara keduanya. tidak peduli dengan hiruk-pikuk suasana kota di luar sana. bagi mereka, inilah dunia mereka.

bersambung.

Share


Leave a comment

JEJAK TITIAN (chapter: 4)

Dentingan suara senar gitar tanpa teriring suara nyanyian terdengar fals namun berat. Kalah bersaing dengan kotak radio dua band yang cempreng mengeluarkan nada dangdut melayu dari jarak 7 meter dari tempat ali berada.

Ali tidak menyurutkan niatnya melantunkan lagu dari grup band ternama negeri ini. Abdullah memperhatikan dengan seksama jemari ali yang sedari 6 menit lalu telah menari diatas senar-senar gitar yang mulai tampak berkarat.

“bang…”,teriak abdulah yang sontak menghentikan petikan gitar ali. “gantian bang, aku mau pinjam gitarnya. Aku juga mau belajar bang…”.sembari melayangkan seuntai senyum lugu dari bibir abdulah.

Ali sedikit mengernyitkan dahinya dengan sedikit senyum agak aneh dan lirikan mengejek ditujukan pada abdulah. Namun sejurus kemudian senyumnya terkembang manakala dia memandang wajah abdullah yang penuh semangat. “ambillah abdu, mainkan musikmu, biar kalah suara radio cempeng disana itu… Hahahahaaa…”ali menjawab sambil tertawa. “mau main lagu apa”,lanjutnya.

“tidak tau bang”,abdullah menjawab sambil sekali lagi tersenyum seraya menggaruk-garuk kepalanya. “lupa bang, tadi sih ada pas lagi liat abang main, tapi sekarang sudah hilang. Apa ya…”, abdullah berpikir sejenak mengingat-ingat lagu yang ingin dimainkan tadi.

“kelamaan du, mikir terus kapan mainnya. Sudah… Ditinggal dulu. Belum makan khan. Ayo kita beli di depan jalan” ali mengingatkan.

Abdulah menyaut cepat, “oh iya. Lupa bang. Tadi abis isya kelupaan mau beli makan. Sudah lapar dari tadi… ”

“nanti abang ajari main gitar menggunakan kunci grip biar kamu lebih jago lagi. Sekarang taruh gitarnya di dalam, cepetan…” kata ali, yang diikuti oleh langkah abdullah menuju petak untuk meletakkan gitar.

Melewati jalanan setapak yang setengah becek ditemani remang lampu 5 watt dari kejauan mereka bergegas menuju warung tempat membeli makan. Sambil ali bercerita kecil kepada abdullah mereka pun berlalu menuju terang benderang suasana tepi jalan.

(chapter 4, bersambung)


Leave a comment

JEJAK TITIAN (chapter: 3)

‘…Allahu akbar… Allahu akbar… La ilaha ilallah…’ suara qomat yang terdengar dari pengeras suara musholah kecil itu. bergegas barisan sholat yang terdiri dari 6 orang laki-laki dan 2 orang perempuan di barisan belakang.

abdullah dan ali menunaikan ibadah sholat magrib berjamaah. meskipun jamaahnya sedikit namun tidak mengurangi kekhusukan dan nikmat sebuah ibadah.

selepas rangkaian sholat selesai, ali menghampiri tumpukan Al-quran di bagian pojok belakang mushola. abdulahpun mengikuti langkah ali.

lantas keduanya mulai membaca Al-quran saut menyaut walau surah yang dibaca mereka tidak sama. langtang suara ali mengisi seluruh ruang mushola. abdullah melirihkan suara karena sadar tajuidnya masih belum bagus.

mengaji bagi keduanya selepas sholat magrib sudah menjadi kebiasaan. setelah seharian berjuang dengan rajutan dunia yang terkadang mengganggu pikiran. ali mendapati dirinya menjadi lebih bersabar atas kehidupannya setelah serangkaian kalimat al-quran terlantun indah dengan tajuid yang bagus keluar dari mulutnya.

empat puluh menit berlalu, alipun menutup al-qurannya sambil berucap ‘sadaqallahul adzim…’.

satu menit kemudian abdullah pun menyudahi membaca qurannya ketika suara adzan dari ali terdengar keras dari penguat suara.

abdullah merapikan al-quran yang dibacanya tadi dan mengembalikannya ke tempat semula dimana dia mengambilnya tadi.

kali ini hanya terlihat 4 orang yang berada di mushola. berkurang dari jumlah jamaah sholat magrib tadi. kalimat qomat keluar dari mulut ali dan jamaahpun mulai merapikan barisan.

imam mulai melirik kebelakang. ‘luruskan saf, ratakan saf…’ sesaat kemudian beliau mulai terdiam dalam kalimat niat dalam hatinya.

‘Allahu akbar…’ takbiratul ikhram memulai rangkaian sholat isya malam itu.

(chapter: 3, bersambung)